Sebuah pertanyaan yang layak untuk dijeda sejenak, terlepas dari jawaban yang sudah jadi:
Apakah Yesus hanya seorang nabi seperti nabi lainnya…atau adakah sesuatu dalam dirinya yang benar-benar berbeda?
Tujuannya bukan untuk segera mencapai suatu kesimpulan, tetapi untuk melihat secara serius dan jujur.
Ketika kita membaca tentang kehidupan Yesus, kita tidak hanya melihat seseorang mengajar atau mengarahkan orang. Kami melihat kehadiran yang berbeda…dengan cara yang tidak biasa…pengaruh yang sulit untuk diabaikan.
Bukan hanya kata-katanya saja yang menarik perhatian, tapi juga tindakannya. Kisah-kisah diceritakan tentang Dia di mana Dia menyembuhkan orang sakit dengan perkataan, memulihkan penglihatan bagi mereka yang kehilangan penglihatan, dan bahkan membangkitkan orang mati. Namun hal-hal ini, betapapun hebatnya, bukan sekedar unjuk kekuatan. Kata itu mempunyai arti yang lebih dalam, seolah merujuk pada sesuatu yang lebih besar dari peristiwa itu sendiri.
Namun, ada sesuatu yang lebih dipertanyakan dari semua keajaiban itu. Yesus tidak puas dengan penyembuhan tubuh… Sebaliknya, Dia kadang-kadang berkata kepada orang tersebut:
“Dosamu sudah diampuni.”
Frasa ini tidak biasa dalam konteksnya. Karena yang mendengarnya langsung paham maksudnya.
Pengampunan dosa, dalam iman mereka, bukanlah sesuatu yang diumumkan manusia kepada orang lain, melainkan merupakan hak Ilahi.
Oleh karena itu, pertanyaan mulai muncul dengan jelas: Siapakah orang yang berbicara seperti itu?
Ini bukan satu-satunya aspek yang berbeda.
Saat kita melihat cara dia berbicara, kita melihat sesuatu yang tidak biasa. Para nabi biasanya menyampaikan apa yang disabdakan kepada mereka:
“Tuhan berkata…”
Adapun Yesus, dalam banyak situasi, dia sering berkata:
“Tapi aku beritahu kamu…”
Dia bukan sekadar penyampai pidato,
Sebaliknya, ia berbicara dengan otoritas pribadi, seolah-olah kata-katanya sendiri mempunyai bobot tersendiri.
Cara ini membuat orang menghadapi pilihan yang sulit:
Entah mereka menganggap serius kata-katanya, atau mereka menolaknya sepenuhnya.
Hanya ada sedikit ruang untuk netralitas.
Tapi mungkin yang lebih menarik perhatian daripada kata-kata dan mukjizatnya adalah cara dia berurusan dengan orang lain.
Dia tidak menghindar dari mereka yang dianggap tidak dapat diterima oleh masyarakat. Dia tidak menghindari orang-orang lemah atau orang-orang yang merasa bersalah. Sebaliknya, dia mendekati mereka.
Dia duduk bersama mereka, mendengarkan mereka, dan menangani mereka dengan cara yang membuat mereka merasakan sesuatu yang tidak biasa mereka rasakan:
Penerimaan.
Ini bukanlah persoalan sederhana pada saat itu, dan bahkan pada zaman kita sekalipun.
Di sini muncul pertanyaan logis:
Jika Yesus hanya seorang nabi,
Bagaimana kita memahami semua aspek ini secara bersamaan?
Bagaimana kita menjelaskan bahwa Dia mengampuni dosa?
Dan dia berbicara dengan otoritas khusus?
Dan melakukan keajaiban seperti ini?
Apakah dia menampilkan dirinya secara berbeda dari orang lain?
Mungkinkah dia hanya seorang nabi… dan hanya itu?
Pertanyaan ini tidak hanya menyangkut diskusi intelektual, tetapi juga menyangkut Anda.
Karena jawabannya, apapun itu, mempengaruhi cara Anda memandang Tuhan…dan diri Anda sendiri.
Siapakah Yesus bagi Anda?
Apakah dia hanya seorang tokoh sejarah?
Guru moral?
Seorang nabi di antara para nabi?
Atau adakah kemungkinan lain yang patut dipertimbangkan secara serius?
Anda tidak diharuskan untuk memutuskan suatu masalah dengan cepat, atau mengambil suatu pendapat hanya karena Anda mendengarnya.
Tapi mungkin adil untuk mendekati diri sendiri, membaca, bertanya, berpikir.
Anda dapat memulai dengan sederhana:
Bacalah tentang kehidupan Yesus apa adanya, tanpa prasangka.
Kenali perkataannya, sikapnya, dan caranya bergaul dengan orang lain.
Bukan sebagai kewajiban agama… tapi sebagai pencarian kebenaran yang jujur.
Pada akhirnya, pertanyaannya tetap terbuka untuk Anda:
Mengapa Yesus berbeda?
Dan mungkin yang paling penting:
Apa arti perbedaan ini bagi Anda?
