Mengapa Yesus disalib?
Ini adalah pertanyaan yang sering diajukan, dan seringkali ditanyakan bukan hanya karena rasa ingin tahu, namun karena ada sesuatu yang lebih dalam di dalamnya yang menyentuh makna kesakitan, keadilan, dan cinta. Mengapa kehidupan Yesus berakhir dengan cara yang begitu menyakitkan? Mengapa orang-orang sepertinya meninggalkannya pada saat-saat paling membutuhkan?
Ketika kita pertama kali melihat salib, kita melihatnya sebagai peristiwa yang kejam. Penyaliban pada zaman Yesus bukan hanya sekedar cara untuk mengeksekusi, namun merupakan salah satu bentuk hukuman yang paling memalukan dan menyakitkan, yang digunakan untuk menyampaikan pesan ketakutan akan kematian. Namun apa yang terjadi pada Yesus bukan sekedar eksekusi hukuman biasa, melainkan sebuah peristiwa yang meninggalkan dampak mendalam dan kebingungan besar bagi orang-orang disekitarnya, bahkan para pengikutnya sendiri saat ini tidak mengerti mengapa semua itu terjadi.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa Yesus tidak memandang salib sebagai sesuatu yang mengejutkan atau sesuatu yang asing dalam kehidupan-Nya. Dia tidak lari darinya, juga tidak berusaha menghindarinya ketika mendekat. Sebaliknya, dia membicarakannya dengan cara yang memberi kesan bahwa itu adalah bagian dari pesannya, seolah-olah dia tahu jalan yang dia ambil. Dia berbicara tentang kedatangannya untuk menyelesaikan misi, tentang kasih yang akan diungkapkan sampai akhir, dan tentang kesediaan untuk memberikan diri demi orang lain.
Di sini maknanya mulai bergeser. Salib muncul bukan hanya sebagai peristiwa yang menyakitkan, namun sebagai sebuah pilihan yang membawa makna. Bukan karena rasa sakit itu sendiri adalah sebuah tujuan, tapi karena apa yang ada di baliknya membawa pesan yang lebih dalam. Pesan dasarnya bukanlah agar manusia dihakimi, namun agar kasih Tuhan diungkapkan dengan cara yang praktis, yang tidak hanya sekedar gagasan atau kata-kata.
Dalam pengertian ini, cinta bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan yang berujung pada pengorbanan. Seolah-olah gagasan tersebut mengatakan bahwa cinta sejati tidak berhenti pada batas kenyamanan atau kata-kata, melainkan bisa masuk jauh ke dalam kesakitan bagi orang lain.
Yesus, menurut pemahaman ini, tidak berpaling dari penderitaan manusia, melainkan mendekatinya semaksimal mungkin. Dia mendekati kelemahan, ketakutan, dan perasaan pengkhianatan dan kesepian, seolah-olah dia memasuki pengalaman manusia itu sendiri, bukan dari luar tetapi dari dalam. Di sini gambaran berbeda terbentuk: bahwa Tuhan tidak jauh dari rasa sakit, namun hadir di dalamnya dengan cara yang tidak dapat direduksi menjadi penjelasan sederhana.
Dari sinilah muncul makna pengampunan di salib. Bukan sebagai ide teoretis, tetapi sebagai hadiah yang ditawarkan kepada seseorang meskipun dia memiliki kelemahan. Pengampunan tidak bergantung pada kesempurnaan, tetapi diberikan jika diperlukan. Bukan hadiah, tapi awal yang baru.
Salib, dalam pengertian ini, tidak tetap menjadi peristiwa sejarah tersendiri, melainkan menjadi ajakan untuk merenung: Apa artinya memiliki cinta yang mencapai sejauh ini? Apa yang diungkapkan hal ini tentang sifat Allah? Bagaimana pemahaman ini dapat mengubah pandangan kita terhadap diri sendiri dan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak semuanya hilang, dan mungkin masih banyak detail yang memerlukan pemikiran lebih dalam, namun mungkin permulaannya bukanlah sampai pada jawaban akhir, melainkan dengan berhenti sejenak di depan peristiwa ini dan merenungkannya dengan jujur. Karena pada akhirnya salib bukan sekadar cerita untuk diceritakan, melainkan sebuah pertanyaan terbuka tentang makna cinta, makna kedekatan, dan makna Tuhan hadir jauh di dalam diri manusia dan tak jauh darinya.
