Pengertian “Monoteisme” dalam Kekristenan
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi teman Muslim ketika membaca Alkitab atau berbicara dengan umat Kristen adalah istilah “Tritunggal Mahakudus”. Pikiran yang dibesarkan pada kesatuan mutlak Tuhan mungkin melihat dalam “Bapa, Putra, dan Roh Kudus” semacam politeisme atau politeisme.
Dalam artikel ini kami akan menjelaskan kebenaran tentang iman Kristen:Kami tidak percaya pada tiga tuhan, melainkan pada satu Tuhan yang kekal, yang memiliki diri yang menyampaikan firman-Nya dan hidup oleh roh-Nya.
Pertama: Deklarasi kesatuan dalam Kitab Suci
Yang terpenting, setiap peneliti harus mengetahui bahwa agama Kristen adalah agama monoteistik yang unggul. Konstitusi Kristen dimulai dengan deklarasi eksplisit:
“Dengarlah, hai Israel: Tuhan, Allah kami, Tuhan itu esa” (Markus 12:29).
Kekristenan sepenuhnya menolak “pluralisme”, dan setuju dengan visi Al-Qur’an yang menolak adanya tuhan selain Tuhan:
“Dan janganlah kamu mengucapkan tiga hal: ‘Berhentilah, itu lebih baik bagimu. Allah hanyalah Tuhan yang Esa.’” (Surat An-Nisa: 171).
Umat Kristiani sepenuhnya setuju dengan pernyataannya, “Tuhan adalah Tuhan yang Esa,” namun ketidaksepakatannya terletak pada pemahaman kita tentang apa yang dimaksud dengan “yang esa”; Apakah yang “statis” atau yang “jamak dalam Kesatuan”?
Kedua: Menjelaskan Tritunggal secara sederhana (diri, perkataan, roh)
Tritunggal bukanlah perhitungan (1+1+1=3), melainkan gambaran hakikat Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan bukanlah tubuh yang dapat dipisahkan, melainkan roh yang sederhana. Trinitas berarti satu Tuhan yang mempunyai:
- ayah:Tuhan sebagai asal mula segala sesuatu dan “diri” ilahi.
- Putra:Tuhan sebagai “Firman” dan pikiran yang berbicara (berinkarnasi dalam Kristus).
- Roh Kudus:Tuhan sebagai “hidup” dan kekuatan yang efektif.
Dapatkah Anda membayangkan Tuhan tanpa pikiran (kata)? Atau Tuhan tanpa jiwa (kehidupan)?Tentu saja tidak. Oleh karena itu, Tuhan, Firman-Nya, dan Roh-Nya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sebagaimana manusia adalah satu dan mempunyai pikiran dan roh.
Ketiga: Contoh dari kenyataan untuk mendekati gambarannya
Untuk mendekatkan maknanya kepada para pencari kebenaran, kita dapat melihat beberapa contoh yang Tuhan ciptakan di alam semesta untuk mencerminkan sifat-Nya (dengan sedikit perbedaan):
- Contoh matahari:Matahari itu satu, tetapi terdiri dari (cakram matahari, cahaya yang memancar darinya, dan panas yang memancar darinya). Kami tidak mengatakan “tiga matahari”, melainkan satu matahari dengan tiga karakteristik yang berbeda namun tidak terpisah.
- Contoh kebakaran:Api itu satu, tetapi mengandung (nyala api, cahaya, dan panas). Tuhan mempunyai (diri, firman, dan roh).
- Contoh manusia:Anda adalah satu manusia, tetapi Anda memiliki (entitas, pikiran, dan jiwa). Jika kamu berbicara kepadaku dengan pikiranmu, maka kamulah yang berbicara kepadaku. Jika kamu hadir dengan ruhmu, maka kamulah yang hadir.
Keempat: Apakah ini “politeisme”?
Politeisme adalah ketika Anda mengasosiasikan Tuhan dengan tuhan lain “dari luar Dia” (seperti berhala Mekah atau dewa Yunani). Adapun Tritunggal Kristen, ia berada “di dalam” keesaan Tuhan.
- KataItu bukan tuhan lain, tapi firman Tuhan.
- semangatDia bukan tuhan lain, melainkan Roh Tuhan.
Dalam Al-Qur’an, Kristus digambarkan sebagai:
“Firman-Nya Dia sampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya” (QS. An-Nisa: 171).
Orang Kristen secara harafiah mempercayai hal ini; Kristus adalah “Firman” yang datang dari Allah, dan Dia adalah “Roh” yang diam di antara kita. Jika Firman dan Roh berasal dari “esensi Tuhan”, lalu bagaimana kepercayaan kepada keduanya bisa menjadi politeisme?
Kelima: Mengapa kita perlu menyebutkan ketiga “Sejarah”?
Ada yang mungkin bertanya: Mengapa kita tidak mengatakan “Tuhan itu esa” dan merasa puas? Kami menyebut “Bapa, Anak, dan Roh Kudus” karena Tuhan menyatakan diri-Nya seperti ini di dalam Alkitab agar kita dapat memahami pekerjaan-Nya dalam hidup kita:
- ayahDia mengasihi kita dan menciptakan kita.
- Putra(Firman) menjelma untuk menebus kita dan menyelamatkan kita dari dosa.
- Roh KudusDia tinggal di hati kita untuk membimbing dan menguduskan kita.
Dia adalah Tuhan yang Esa, namun Dia bukanlah Tuhan yang terisolasi, melainkan Tuhan yang memiliki “hubungan” dan kasih.
kesimpulan
Pengunjung yang terhormat, keesaan Tuhan dalam agama Kristen itu kaya, hidup, dan diwahyukan. Kita tidak menyembah ketiganya, namun kita bersujud kepada Dia yang satu-satunya yang menyinari hati kita melalui inkarnasi Sabda-Nya, dan menghidupkan kita dengan hembusan Roh Kudus-Nya.
