Pertanyaan yang adil yang diajukan banyak orang: Jika Daud dan Salomo — yang dianggap orang Kristen sebagai nabi — menikahi puluhan perempuan, bagaimana orang Kristen dapat mengklaim bahwa pernikahan dengan satu perempuan adalah norma? Dan apakah Gereja memilih prinsip ini dari budaya Romawi, bukan dari Alkitab?
Untuk menjawab pertanyaan ini dengan jujur, kita harus membedakan antara tiga hal: apa yang dicatat dalam Perjanjian Lama, apa yang diajarkan Yesus dengan jelas, dan apa yang kemudian diakui Gereja. Ketiga lapisan ini tidak saling bertentangan — tetapi mereka mengungkapkan bagaimana orang Kristen memahami perkembangan wahyu ilahi.
Pertama: Perjanjian Lama — Poligami Ada tetapi Tidak Pernah Diperintahkan
Siapa pun yang membaca Perjanjian Lama dengan adil akan menemukan bahwa poligami disebutkan dalam kisah-kisah nabi seperti Abraham, Daud, dan Salomo. Tetapi menyebutkan sesuatu tidak berarti menyetujui atau memerintahkannya. Alkitab mencatat realitas manusia — termasuk kelemahannya — tanpa menjadikannya sebagai standar.
Jika kita merenungkan kisah-kisah yang sama, kita menemukan bahwa poligami hampir selalu membawa masalah:
- Abraham dan Hagar: Kecemburuan dan konflik antara Sara dan Hagar, kemudian pengusiran Hagar dan putranya.
- Daud dan para istrinya: Konflik keluarga, pemberontakan putranya Absalom, dan fitnah dalam satu rumah.
- Salomo: Alkitab secara eksplisit menyatakan bahwa para istrinya memalingkan hatinya dari Allah (1 Raja-raja 11:3-4).
Catatan penting: Perjanjian Lama tidak pernah memerintahkan poligami sebagai kewajiban agama; ia hanya mentolerirnya dalam konteks-konteks budaya tertentu. Perbedaan antara mentolerir suatu fenomena dan memerintahkannya adalah fundamental dalam metodologi teologi.
Kedua: Yesus — Kembali ke Penciptaan Pertama
Ketika orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perceraian, Yesus tidak mulai dari Hukum Musa, tetapi kembali ke momen pertama penciptaan:
“Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula, menciptakan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” — Matius 19:4-5
Dalam ayat ini, Yesus menetapkan tiga prinsip dengan kejelasan mutlak: satu laki-laki (“laki-laki,” bukan “laki-laki-laki”), satu perempuan (“perempuan,” bukan “perempuan-perempuan”), dan kesatuan yang tidak dapat dibagi (“satu daging”). Kemudian Ia mengomentari hukum Musa tentang perceraian, berkata: “Musa karena kedegilan hatimu mengizinkan kamu” — artinya apa yang ada dalam hukum lama adalah toleransi terhadap kelemahan manusia, bukan teladan untuk ditiru.
Orang Kristen melihat dalam bagian ini sebuah pernyataan nabi bahwa poligami tidak pernah menjadi maksud pertama Allah — itu hanyalah izin sementara untuk kelemahan manusia, yang berakhir dengan ajaran Yesus yang tegas.
Ketiga: Surat-surat Paulus — Ajaran yang Tegas
Dalam surat-surat Paulus kita menemukan teks yang paling langsung dalam hal ini. Ketika Paulus berbicara tentang kualifikasi para pemimpin gereja, ia berkata:
“Seorang uskup harus tidak bercela, suami dari satu isteri.” — 1 Timotius 3:2
“Tidak bercela, suami dari satu isteri.” — Titus 1:6
Banyak teolog mengamati bahwa penentuan syarat ini khusus untuk para pemimpin berarti secara implisit bahwa poligami ada dalam lingkungan budaya di sekitarnya — jika tidak ada, tidak perlu peringatan. Tetapi kesaksian penting adalah bahwa Paulus menjadikan pernikahan dengan satu perempuan sebagai standar kematangan rohani dan kelayakan untuk kepemimpinan.
Keempat: Mengapa Yesus Tidak Secara Eksplisit Melarang Poligami?
Pertanyaan yang adil: Jika Yesus menolak poligami, mengapa Ia tidak berkata “poligami dilarang”?
Ada tiga jawaban Kristen untuk ini:
- Kembali ke asal lebih kuat dari larangan spesifik: ketika Anda berkata “ini adalah asal ilahi,” Anda tidak perlu melarang setiap penyimpangan darinya satu per satu.
- Gaya pengajaran Yesus: Ia sering mengajar dengan prinsip, bukan dengan daftar larangan — “kasihilah satu sama lain” secara implisit berarti jangan berbohong dan jangan menyakiti, tanpa menghitung setiap bentuk penyakitian.
- Konteks budaya: Pidato-Nya ditujukan untuk masyarakat Yahudi di mana poligami relatif jarang; masalah yang lebih umum adalah perceraian karena alasan sepele.
Kelima: Tabel Perbandingan
Table
| Aspek | Posisi | Sumber |
|---|---|---|
| Perjanjian Lama | Menyebutkan poligami di antara nabi-nabi tanpa perintah eksplisit, tetapi juga tanpa larangan eksplisit | Kejadian, Samuel |
| Yesus dalam Injil | Dengan jelas kembali ke penciptaan pertama: “keduanya menjadi satu daging” | Matius 19:4-6 |
| Surat-surat Paulus | Larangan eksplisit: “hendaklah ia hanya mempunyai satu isteri,” terutama untuk para pemimpin gereja | 1 Timotius 3:2 |
| Posisi Kristen Umum | Pernikahan dengan satu perempuan adalah standar Injil yang eksplisit, bukan sekadar tradisi budaya | Ajaran Gereja |
| Posisi Islam | Memperbolehkan poligami dengan syarat keadilan dan maksimal empat, sambil menunjuk pada kesulitan keadilan yang sempurna | An-Nisa 3, 129 |
Keenam: Apakah Keputusan Gereja Budaya atau Alkitabiah?
Beberapa orang berpendapat bahwa Gereja mengadopsi monogami di bawah pengaruh budaya Romawi — keberatan yang layak mendapat keadilan. Namun demikian, ada perbedaan mendasar: Gereja tidak menciptakan prinsip ini kemudian mencari pembenaran Alkitab untuknya; melainkan menemukannya secara eksplisit dalam ajaran Yesus dan surat-surat Paulus. Sekalipun kebetulan selaras dengan budaya Romawi dalam beberapa hal — keselarasan budaya tidak membatalkan prinsip Alkitabiah.
Kejujuran menuntut pengakuan bahwa beberapa komunitas Kristen pada abad-abad awal tidak ketat dalam hal ini, terutama dalam masyarakat di mana Kekristenan baru menyebar dan poligami adalah bagian dari struktur sosial mereka. Tetapi ini adalah pengecualian historis, bukan norma doktrinal.
Ketujuh: Titik Temu untuk Pembaca Muslim
Pembaca Muslim akan memperhatikan sesuatu yang menggugah pikiran di sini: Islam memperbolehkan poligami dengan syarat keadilan, dan pada saat yang sama Al-Qur’an menunjuk pada kesulitan keadilan yang sempurna di antara para isteri (An-Nisa: 129). Dengan demikian, teks Al-Qur’an sendiri menetapkan pembatasan teoritis yang menjadikan poligami sebagai kasus pengecualian yang bersyarat, bukan norma mutlak.
Kekristenan memilih jalur pembatasan total: pernikahan dengan satu perempuan adalah norma, bukan pengecualian. Islam memilih jalur izin terbatas dengan syarat-syarat ketat. Kedua posisi berangkat dari keprihatinan etis yang serius tentang keadilan dan martabat perempuan — meskipun jalannya berbeda.
Renungan Penutup
Dalam Injil ada gambaran pernikahan yang melampaui pengaturan hukum semata: Paulus menggunakan pernikahan sebagai metafora untuk hubungan antara Kristus dan Gereja-Nya — cinta yang sempurna, kesetiaan yang total, dan pengorbanan yang tidak terbagi. Gambaran ini membuat poligami mustahil, bukan hanya karena dilarang, tetapi karena tidak selaras dengan metafora mendalam di jantung pemahaman Kristen tentang pernikahan.
“Hai suami-suami, kasihilah isterimu, sebagaimana Kristus telah mengasihi gereja dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” — Efesus 5:25
Apakah tingkat cinta dan kesetiaan mutlak ini dapat dibagi? — itulah pertanyaan yang diajukan Injil kepada setiap orang yang berpikir tentang makna pernikahan.
Untuk pembacaan langsung dalam Alkitab:
- Kejadian 2:18-24 — Penciptaan perempuan dan asal-usul pernikahan
- Matius 19:1-12 — Ajaran Yesus tentang pernikahan dan perceraian
- 1 Raja-raja 11:1-8 — Para isteri Salomo dan pengaruh mereka
- 1 Timotius 3:1-7 — Kualifikasi kepemimpinan gereja
- Efesus 5:22-33 — Pernikahan sebagai metafora hubungan antara Kristus dan Gereja-Nya
