perkenalan
Ketika “hijab” disebutkan, Islam langsung terlintas dalam pikiran. Namun tahukah Anda bahwa gagasan perempuan menutup kepalanya tidak hanya ada dalam Islam?
Padahal, jika kita menilik kembali teks agama Yudaisme dan Kristen, kita akan menemukan bahwa cadar atau penutup kepala jelas ada, bahkan dipandang sebagai bagian dari kesopanan dan ibadah.
Pada artikel kali ini kami akan mencoba membaca topik tersebut dengan tenang:
Bukan untuk tujuan argumentasi, tapi untuk tujuan pemahaman.
Pertama: Hijab dalam Islam merupakan kewajiban yang jelas
Dalam Islam, berhijab bukan sekedar adat semata, namun berkaitan langsung dengan teks agama.
Al-Qur’an mengatakan:
“Dan suruhlah wanita-wanita mukmin agar menundukkan pandangan mereka… dan menutupkan cadarnya hingga menutupi dada mereka.”(Al-Nur 31)
Dan juga:
“Wahai Nabi, suruhlah istri-istrimu… untuk menurunkan sebagian jubahnya.”(Al-Ahzab 59)
Oleh karena itu, seorang muslim memahami bahwa hijab:
- Ibadah dan ketaatan kepada Tuhan
- Terkait dengan kesopanan
- Bagian dari identitas agama
Kedua: Bagaimana dengan Kekristenan?
Mungkin mengejutkan beberapa orang bahwa Perjanjian Baru juga berbicara tentang menutup kepala.
Rasul Paulus berkata:
“Setiap wanita yang shalat atau bernubuat dengan kepala tidak tertutup, berarti tidak terhormat kepalanya.”(1 Korintus 11:5)
Dia bahkan menambahkan:
“Oleh karena itu, seorang wanita harus mempunyai otoritas atas kepalanya.”(1 Korintus 11:10)
Artinya:
- Menutup kepala adalah praktik yang terkenal di gereja mula-mula
- Itu terkait dengan ibadah dan rasa hormat
Namun seiring berjalannya waktu:
- Kebanyakan gereja tidak lagi memerlukannya
- Hal ini telah dipandang sebagai tradisi sejarah dan bukan suatu kewajiban
Di sini muncul pertanyaan penting:
Kalau teksnya ada, kenapa harus ganti aplikasi? (Membaca:Mengapa Kekristenan meninggalkan beberapa ketentuan Perjanjian Lama?)
Ketiga: Hijab dalam Yudaisme adalah tradisi kuno
Dalam Yudaisme, menutupi rambut terutama dikaitkan dengan wanita yang sudah menikah.
Hal ini tampak dalam tradisi Yahudi, dimana:
- Mengekspos rambut wanita di depan orang asing dianggap tidak senonoh
- Beberapa wanita menutupi rambutnya dengan syal atau syal
Kita juga menemukan referensi dalam Perjanjian Lama tentang konsep kesopanan dan penyembunyian, seperti:
“Kamu harus berpakaian sopan.”(Konsep umum dalam teks kebijaksanaan)
Meskipun rinciannya lebih berasal dari tradisi, ide dasarnya adalah:
Cakupan dan perbedaan.
Keempat: Apa yang kita pelajari dari perbandingan ini?
Saat kita menampilkan keseluruhan gambar di depan kita, kita memperhatikan:
- Hijab bukanlah ide yang asing bagi agama lain
- Sebaliknya, ini adalah bagian dari warisan agama bersama
- Tapi dia tetap lebih kuat dalam Islam dibandingkan dengan agama lain
Hal ini membawa kita pada sebuah gagasan penting:
Tidak setiap perbedaan saat ini berarti yang asli berbeda.
Kelima: Ajakan untuk berpikir tenang
Jika Anda seorang Muslim yang membaca artikel ini, Anda mungkin melihat bahwa hijab terlihat jelas dalam agama Anda.
Namun ada baiknya juga untuk bertanya:
- Bagaimana keadaan pada zaman nabi-nabi sebelumnya?
- Mengapa beberapa praktik berubah seiring berjalannya waktu?
Di sisi lain, jika kita melihat ajaran Kristus, saw, kita menemukan penekanan besar pada:
- Kemurnian
- Kerendahhatian
- Dan jauhi penampilan yang sombong
Bisakah hijab menjadi bagian dari kerangka yang lebih luas ini?
kesimpulan
Jilbab bukan hanya sehelai kain, melainkan sebuah gagasan yang lebih dalam:
- Terkait dengan kesopanan
- Dan dalam hubungan dengan Tuhan
- Dan cara seseorang menampilkan dirinya dalam masyarakat
Ketika kita melihat Yudaisme, Kristen, dan Islam, kita menemukan bahwa gagasan ini tidak dimulai dari satu agama, melainkan merupakan bagian dari jalan iman yang panjang.
