Ini adalah pertanyaan tertua dalam sejarah umat manusia, dan merupakan tantangan terbesar yang dihadapi setiap orang yang beriman akan keberadaan Tuhan yang Mahakuasa dan Maha Pengasih. Mata tak mampu menutup terhadap tangisan penderitaan, air mata orang yang tertindas, dan membaranya hati.
Jika Tuhan adalah “kasih” seperti yang dijelaskan dalam Alkitab, dan jika Dia “maha pengasih dan penyayang” seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, bagaimana hal ini bisa digabungkan dengan adanya gempa bumi, peperangan, dan anak-anak yang sakit? Apakah Tuhan tidak mampu mencegah kejahatan? Atau dia tidak peduli?
Dalam artikel ini, kita akan menggali lebih dalam pertanyaan ini untuk menemukan bahwa penderitaan, meskipun kejam, bukanlah bukti ketidakhadiran Tuhan, namun terkadang penderitaan merupakan tempat di mana kita berjumpa dengan-Nya.
Pertama: Pemberian “kehendak bebas” dan harganya yang mahal
Tuhan tidak menciptakan kita “robot” (mesin) yang diprogram hanya untuk ketaatan dan kebaikan. Jika dia melakukannya, hidup kita tidak akan ada artinya, dan “cinta” tidak mungkin terjadi; Karena cinta sejati membutuhkanpilihan.
- Pilihannya memerlukan dua kemungkinan:Agar bisa bebas mencintai dan berbuat baik, kita juga harus bebas menolak dan berbuat jahat.
- Tanggung jawab manusia:Sebagian besar kejahatan di dunia (peperangan, kelaparan, ketidakadilan) adalah akibat dari “penyalahgunaan” kebebasan manusia, dan bukan keinginan Tuhan.
“Sebab kamu dipanggil untuk merdeka, saudara-saudara. Tetapi janganlah kamu memandang kemerdekaan itu sebagai suatu kesempatan bagi daging, tetapi dalam kasih hendaklah kamu melayani satu sama lain. Separuh hati” (Galatia 5:13).
Kedua: Dunia yang “rusak”, bukan dunia yang “sempurna”.
Umat Kristen percaya bahwa dunia yang kita tinggali saat ini bukanlah versi yang Tuhan inginkan pada awalnya. Alkitab mengajarkan kita bahwa kejahatan masuk ke dunia sebagai akibat terpisahnya manusia dari Tuhan (kejatuhan).
Penderitaan dan kejahatan adalah “gejala” dari penyakit rohani yang telah menimpa seluruh ciptaan. Seperti yang kita temukan dalam Al-Qur’an indikasi bahwa kehidupan dunia ini adalah tempat ujian:
“Dan niscaya Kami akan menguji kamu dengan rasa takut, kelaparan, dan hilangnya harta, nyawa, dan buah-buahan. Dan kami akan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar” (QS. Al-Baqarah: 155).
Kita hidup di dunia yang sementara dan rusak, namun ini bukanlah perhentian terakhir.
Ketiga: Tuhan tidak mengawasi kita dari jauh…tetapi justru menderita bersama kita!
Di sinilah keagungan “pesan Kristus” muncul. Dalam filsafat lain, Tuhan mungkin adalah dewa jauh yang mengawasi penderitaan kita dari singgasananya yang tinggi. Dalam agama Kristen, Tuhan yang pengasih melakukan sesuatu yang menakjubkan:Itu telah sampai pada kita.
- Kristus dan penderitaan:Yesus Kristus tidak hanya menjelaskan penderitaan secara teoritis, namun Ia mengalaminya di dalam tubuh-Nya sendiri. Ia lapar, haus, sedih, menangis, tertindas, dan akhirnya menderita di kayu salib.
- Dewa yang menderita:Saat kita menderita, kita tidak berseru kepada Tuhan yang tidak memahami kita, tapi kepada Tuhan yang mempunyai bekas paku di tubuhnya. Dia adalah “seorang yang penuh kesengsaraan dan biasa menderita kesusahan” (Yesaya 53:3).
Kematian dan kebangkitan Kristus adalah jaminan bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita, namun telah mempersiapkan bagi kita jalan menuju kemenangan atas penderitaan dan kematian pada akhirnya.
Keempat: Penebusan dan transformasi “keburukan” menjadi “keindahan”
Tuhan, dalam kebijaksanaan dan kasih-Nya, mempunyai kemampuan luar biasa untuk mengeluarkan kebaikan dari hati yang jahat. Lihatlah kisah Yusuf Al-Siddiq (ditemukan dalam Alkitab dan Al-Qur’an); Bagaimana pengkhianatan saudara-saudaranya, perbudakannya, dan pemenjaraannya berubah menjadi sarana untuk menyelamatkan seluruh bangsa dari kelaparan.
Rasul Paulus berkata:
“Dan kita tahu, bahwa segala sesuatu turut mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah” (Roma 8:28).
Penderitaan bisa jadi merupakan “pisau bedah” yang melenyapkan kesombongan dalam hati kita, atau “api” yang menyucikan iman kita sehingga kita semakin dewasa dan berbelas kasih terhadap sesama.
Kelima: Harapan untuk akhir yang bahagia
Kekristenan tidak menjanjikan kita kehidupan yang bebas dari rasa sakit, namun menjanjikan kita…“Keberadaan Tuhan”Di tengah kepedihan, dan pada akhirnya Tuhan menghapus segala air mata dari mata kita.
Penderitaan saat ini, berapa pun lamanya, adalah “momen” dan bukan “keabadian”. Tanpa perspektif kekekalan dan kebangkitan, penderitaan tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan. Namun bersama Kristus, kesakitan adalah proses melahirkan yang mendahului kelahiran baru.
Kesimpulan untuk dipikirkan
Pengunjung yang budiman, jika saat ini Anda sedang mengalami kesusahan, ketahuilah bahwa bukan Tuhan yang menyebabkan Anda menderita seperti ini, melainkan Dialah yang pertama kali merasakan Anda. Dia berdiri di depan pintu hati Anda, bukan untuk memberi Anda penjelasan filosofis, tetapi untuk menawarkan Anda“sama”Sebagai pendamping di jalan.
Apakah Anda merasakan pahitnya ketidakadilan atau penderitaan? Kami mengundang Anda untuk mencoba berdoa dalam nama Yesus, memohon kepada-Nya untuk memberi Anda kedamaian yang melampaui segala pemahaman, dan berbagi cerita Anda dengan kami jika Anda mau, kami di sini untuk berdoa bersama Anda.
