Pertanyaan ini mungkin merupakan pertanyaan yang paling sering diajukan dalam dialog Islam-Kristen. Bagaimana kita bisa mempercayai buku yang berusia ribuan tahun? Apakah Injil benar-benar terdistorsi, seperti yang dikatakan?
Pertama: Apa yang dimaksud dengan “distorsi”?
Mari kita mulai dengan mendefinisikan maknanya. Ketika umat Islam berbicara tentang memutarbalikkan Alkitab, ada dua pemahaman yang berbeda:
- Distorsi verbal: Teks aslinya hilang, dan orang-orang menulis teks baru yang sama sekali berbeda.
- Distorsi moral: Teks aslinya ada, namun pemahaman orang terhadapnya berbeda-beda atau salah menafsirkannya.
Umat Kristiani percaya bahwa Tuhan memelihara Firman-Nya, dan distorsi tersebut, jika terjadi, adalah jenis yang kedua: kesalahpahaman dan penafsiran, bukan mengubah teks itu sendiri.
Kedua: Apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang Alkitab?
Al-Qur’an berbicara tentang Injil dengan kata-kata yang sangat indah. Beliau menggambarkannya sebagai “petunjuk dan cahaya” (Al-Ma’idah 46). Al-Qur’an memerintahkan para pengikut Al-Qur’an untuk mengimani apa yang diturunkan kepada mereka dan apa yang diturunkan kepada orang-orang sebelum mereka (QS. Al-Baqarah 4). Beliau bersabda tentang firman Allah: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah firman-Nya” (Al-An’am 34).
Instrumen-instrumen ini menunjukkan bahwa Kitab yang dimiliki Ahli Kitab pada saat turunnya Al-Qur’an, dihormati dan diyakini. Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa kitab ini diputar-balikkan, melainkan memerintahkan umatnya untuk menilai sesuai dengan isinya (Al-Ma’idah 47).
Ketiga: Apakah kita mempunyai naskah kuno?
Ini adalah bukti fisik yang paling penting. Kita mempunyai ribuan manuskrip Perjanjian Baru berbahasa Yunani, beberapa di antaranya berasal dari abad kedua Masehi, hanya beberapa dekade setelah naskah aslinya ditulis.
Sebagai perbandingan:
| Teks | Jarak antara naskah asli dan naskah tertua |
|---|---|
| Iliad karya Homer | Sekitar 400 tahun |
| tulisan Aristoteles | Berusia sekitar 1400 tahun |
| Perjanjian Baru | Baru berusia sekitar 25-50 tahun! |
Bagian tertua dari Injil Yohanes (dikenal sebagai P52) berasal dari sekitar tahun 125-150 M, dan Injil tersebut ditulis pada akhir abad pertama. Artinya interval waktunya sangat singkat.
Keempat: Banyaknya jumlah naskah
Jumlah manuskrip Perjanjian Baru berbahasa Yunani melebihi 5.500. Selain ribuan terjemahan kuno (Latin, Syria, dan Koptik), dan ribuan kutipan dari Bapa Gereja. Jika seluruh manuskripnya hilang, kita dapat sepenuhnya merekonstruksi Perjanjian Baru hanya dari kutipan para Bapa Gereja!
Jumlah yang sangat besar ini memungkinkan para sarjana untuk membandingkan naskah-naskah dan mengetahui teks aslinya dengan akurasi yang sangat tinggi.
Kelima: Perbedaan antar naskah
Ya, ada perbedaan antar manuskrip. Namun 99% di antaranya merupakan perbedaan kecil seperti:
- Kesalahan ejaan (seperti mengeja nama secara berbeda)
- Memajukan atau menunda kata-kata
- Perbedaan bentuk kata kerja
Tidak ada satu perbedaan pun yang mempengaruhi doktrin fundamental Kristen mana pun. Semua doktrin utama (keilahian Kristus, kebangkitan, Trinitas, keselamatan melalui iman) didukung oleh ribuan naskah yang disepakati.
Keenam: Bagaimana dengan Injil yang berbeda?
Ada yang berkata: “Anda mempunyai empat Injil, dan ini adalah bukti adanya distorsi!”
Kenyataannya adalah keberadaan keempat Injil bukanlah bukti distorsi, melainkan bukti kekayaan. Empat saksi mata (atau murid dari saksi mata) menceritakan satu cerita dari sudut yang berbeda.
Seolah-olah empat orang melihat satu kejadian dan menulis tentangnya. Masing-masing akan fokus pada aspek yang berbeda, tetapi cerita dasarnya sama. Matius berfokus pada nubuatan, Markus pada peristiwa-peristiwa singkat, Lukas pada detail manusia, dan Yohanes pada aspek teologis.
Ketujuh: Kesaksian para sarjana non-Kristen
Banyak kritikus tekstual (bahkan para sarjana non-Kristen) menyatakan bahwa teks Perjanjian Baru telah sampai kepada kita dengan tingkat akurasi yang tinggi. Sir Frederick Kenyon, mantan direktur British Museum, mengatakan:
“Ketergantungan pada teks Perjanjian Baru lebih kuat daripada ketergantungan pada kitab kuno lainnya. Tidak ada lagi keraguan bahwa kita memiliki esensi tulisan-tulisan Perjanjian Baru sebagaimana ditulis.”
Kedelapan: Bagaimana dengan kontradiksi?
Beberapa orang berpikir bahwa ada kontradiksi dalam Alkitab. Sebagian besar disebabkan oleh:
- Tidak memahami konteksnya
- Mengabaikan bahwa penulis berbicara dari sudut yang berbeda
- Membingungkan nomor berbeda untuk kejadian yang sama
Misalnya: Berapa jumlah orang buta di Yerikho? Matius berbicara tentang dua hal, Markus dan Lukas berbicara tentang satu hal. Mengapa? Sebab Markus memilih fokus pada tokoh utama (Bartimeus), sedangkan Matius menyebutkan angka lengkapnya. Ini bukan kontradiksi, tapi gaya penulisan yang berbeda.
Kesembilan: Bagaimana dengan ayat-ayat yang diperkirakan telah ditambahkan?
Ada beberapa ayat yang tidak ditemukan dalam manuskrip tertua (seperti bagian akhir Injil Markus yang panjang, atau kisah wanita pezina dalam Injil Yohanes). Para ulama mengetahui hal ini dan menyebutkannya dalam catatan kaki. Tetapi:
- Ayat-ayat ini tidak menetapkan suatu doktrin baru
- Tidak adanya kata ini dalam beberapa manuskrip tidak berarti bahwa keseluruhan Alkitab telah terdistorsi
- Sekalipun kita menghapusnya, doktrin Kristen tetap lengkap dari banyak ayat lainnya
Kesimpulan untuk dipikirkan
Injil yang ada di tangan kita saat ini adalah Injil yang sama yang ada pada masa turunnya Al-Qur’an. Perbedaan antar naskah sangat kecil dan tidak mempengaruhi esensinya. Bukti material dan sejarah mendukung keyakinan kami bahwa teks yang kami baca dapat diandalkan.
Seperti yang Kristus katakan: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman-Ku tidak akan berlalu” (Matius 24:35).
Siapa pun yang ingin mencari kebenaran akan mendapatkan cahaya dan petunjuk dalam Injil, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an sendiri.
